11/10/2009

I’AM SORRY, GOODBYE



LOVE U ALL MY FRIENDS
KEEP IN TOUCH
COZ I AM STILL IN THE SAME PLANET WITH U

Dunia maya dan nyata, bagai dua sisi mata uang yang berbeda bagiku, semuanya menjanjikan sebuah kedamaian yang sungguh menggiurkan, di dunia mayalah (baca blog) aku bisa menuangkan segala uneg-uneg kehidupan nyataku baik dalam bentuk cerita, puisi, opini maupun sekedar coretan iseng yang kemudian dibaca, di komentari dan mungkin juga di hargai oleh segelintir orang.

Di dunia maya yang awalnya hanya perkenalan biasa lambat laun tercipta sebuah rasa indah yakni rasa persahabaan sejati, saling menyemangati, saling berbagi dan saling menghargai tanpa saling kenal, melihat dan mengetahui. Sungguh merupakan pelajaran berharga, memberi tanpa pamrih.

Didunia ini aku mengenal sosok lincah anazkia
, seorang cewek manis yang saat ini sedang memantapkan hati menjadi sang kartini bagi keluarganya, semoga yang terbaik selalu menjadi takdirmu non, miss u so much. Ada juga bu guru yang selalu identik dengan strawberrynya, mbak fanny
yang dengan sabar dan telatennya tak pernah lelah berbagi ilmu tentang dunia cerpen, semoga kelak aku bisa mengikuti jejakmu bug. Si cantik nan anggun mbak Ateh
, sosok lembut keibuan penuh cinta ini selalu memberikan nuansa haru dalam setiap postingnnya, jujur aku sangat ingin sekali bertemu beliau (jangan berfikiran yang negatif ya he he he…). Inoel
, cewek manis yang full semangat ini sering kali memberiku inspirasi betapa simplenya hidup ini, cayoo ya non, semoga segala cita-cita dan harapanmu terkabul. Tak ketinggalan juga sikumbang
, laki-laki yang konon katanya berdarah minang ini sering kali membuatku kembali bersemangat ketika aku sudah mati ide, dan hampir menyerah menghadapi peliknya hidup. Dan masih banyak lagi sahabat-sahabat hebat yang aku kenal di dunia maya, yang mungkin akan lebih dari 3 lembar folio jika ku sebut satu persatu.

Untuk sementara waktu aku akan mencoba rehat dari aktivitas dunia maya, dan berusaha meraih mimpi-mimpi dunia nyataku. Sampai kapan??, entahlah aku sendiri tidak yakin akan sampai kapan, namun satu hal yang pasti jika suatu hari kelak aku kembali tersadar dan tergoda untuk kembali ke dunia cyber ini, maka dengan penuh pengharapan tetaplah menjadi temanku, tetaplah menjadi sahabatku dan tetaplah saling berbagi denganku. Love u all my friends, keep in touch coz I am still in the same planet with u.

Read More......

10/13/2009

DAMAI DI KANEKES


RATNA, IBU DARI ANAK-ANAKKU. AKU AKAN MELAKUKAN TESIS DI KANEKES,RANGKASBITUNG - BANTEN, UNTUK WAKTU YANG AGAK LAMA, ANAK-ANAK AKU AJAK. URUSAN PERCERAIAN AKU SERAHKAN SEMUANYA KE KAMU.

Jam dinding di ruang tamu masih menunjukkan pukul delapan malam. Anak-anak keluarga Haris, sudah tidur terlelap di sofa ruang keluarga. Disela-sela dengkur halus anak-anak, sebuah perbincangan terjadi diantara Haris dan Ratna istrinya.
“Ma, aku dapat beasiswa S3 di Yogyakarta”.
“Bagus dong Pa, terus kapan pendidikannya dimulai?” jawab Ratna masih dengan nada cuek khasnya.
“Sekitar satu bulan lagi”. Sejenak Haris menghentikan bicaranya. “Tapi Ma, aku juga dapat tawaran mengajar di sana”.
“Di Yogya???Ya nggak mungkinlah Pa, sekolahnya anak-anak bagaimana? Apalagi pekerjaanku kan sudah mapan disini. Sayangkan Pa”.
“Kalau soal anak-anak, pindah sekolah kan juga bisa Ma”.
“Katakanlah demikian, terus kerjaanku??. Mesti keluar dan memulai lagi dari nol??”
“Ya.., kamu nggak usah kerja. Jadi Ibu Rumah Tangga aja”
“Gila apa kamu Pa”, Sahut sang istri dengan nada tinggi
“Tahu sendirikan aku orangnya aktif. Kalau tiba-tiba berhenti kerja, dan setiap hari di rumah terus, bisa stress aku Pa”. Lanjutnya kemudian.
“Kamu kan bisa nyari kesibukan lain Ma, nggak mesti bekerja. Aktifitas sosial, misalnya”.
“Kamu nggak adil Pa. Kesenanganmu kok merusak kehidupanku”.
“Kamu kok ngomong begitu sih Ma?. Terus kita mesti bagaimana?, masa aku di Yogyakarta, dan kalian di Jakarta”.
“Itu urusan kamu. Yang jelas aku nggak mau pindah, titik !!. Dan satu hal lagi, aku juga tidak mau di ributkan dengan anak-anak, apalagi si Vano”.
“Apakah itu berarti aku harus membawa mereka serta”.
“Terserah. Karirku sekarang lagi bagus-bagusnya, dan aku tidak mau semuanya berantakan gara-gara kalian”.
“Hemmm…, kita coba lalui dulu lah Ma. Nanti kita pikirkan lagi perkembangannya”.

***
Telah lebih dari satu tahun, keluarga itu tidak lagi bersatu seperti dulu. Anak-anak tinggal dengan sang Papa dengan segala kesederhanaan cara hidup di Yogyakarta, sedangkan Sang Mama semakin tenggelam dengan keasyikan dunianya sendiri.

Sekali-kali keluarga yang dulu pernah meraih penghargaan keluarga harmonis disalah-satu TV swasta itu berkumpul. Sekedar untuk melengkapi kebohongan sandiwara, sebagai cerminan keluarga yang bahagia.
“Pa, pulang yuk.”Ajak si Vani anak pertama mereka, ketika mereka janjian untuk bertemu di Rumah Makan Boyong Kalegan di Yogyakarta.
“Lho, pesanannya kan belum datang sayang”. Sahut Mamanya tanpa diminta
“Paaa…, ayo pulaaa…ng, De’ Vano nggak suka disini, coba lihat alas kaki kita semuanya di lempar ke empang”.
Benar saja, sepertinya anak kedua mereka yang mengalami autis, sudah mulai menunjukkan kejenuhannya. Semua sandal dan sepatu keluarga itu dilemparkan ke empang. Sebenarnya Haris juga mengetahui hal itu, namun dia hanya berusaha menjaga suasana saja, kalau bolah jujur dia juga ingin secepatnya pergi dari tempat yang menurutnya hanya topeng sebuah kebobrokan keluarga.
“Vano.., hentikan!!!”. Hentak sang Mama pada bocah laki-laki yang belum juga bisa bicara, meski hari ini tepat dia merayakan ulang tahunnya yang ke 5.
“Sabar Ma, sabar..”.
“Ini sudah keterlaluan Pa, kalau cuman alas kaki sih nggak Papa, ini tas mama yang banyak dokumen pentingnya di siram juz jeruk. Dasar anak gila !!!”.
“Ma!!!, jaga bicaramu, sebagai seorang Mama, nggak pantas kamu bicara seperti itu”.
“Aku sudah muak dengan semuanya ini, ceraikan aku Pa, aku sudah capek”.
Sebelum pertengkaran ini berlanjut, buru-buru di tarik paksa kedua anaknya untuk segera pulang meski tanpa mengenakan alas kaki.

***
RATNA, IBU DARI ANAK-ANAKKU. AKU AKAN MELAKUKAN TESIS DI KANEKES,RANGKASBITUNG - BANTEN, UNTUK WAKTU YANG AGAK LAMA, ANAK-ANAK AKU AJAK. URUSAN PERCERAIAN AKU SERAHKAN SEMUANYA KE KAMU.

Lagi-lagi dibacanya pesan singkat yang dia terima 3 bulan yang lalu. Sebuah lenguhan sebal tampak tersirat dari wajah ayunya. Dibantingnya HP keluaran terbarunya itu, sebagai tanda protes atas keputusan sepihak dari suaminya.

Satu jam selanjutnya, Sosok Mama dari Vani dan Vano itu sudah tenggelam dalam temaramnya lampu diskotik, tangan kirinya memegang segelas penuh sampanye merk Moet & Chandon, sambil tak henti-hentinya meliuk-liukan tubuhnya mengikuti alunan musik yang sangat memekakkan telinga.

Semakin hari, Ratna semakin jauh terjerembah dalam kehidupan malam. Pekerjaannya menjadi terbengkalai. Alasan ketidakharmonisan keluarganya selalu saja dijadikan alibi untuk semakin menggauli dunia yang dulu sangat dia benci.

Sementara itu, disebuah gubuk tanpa dinding yang berada di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, tampak sosok pria sederhana sedang mengajarkan baca tulis pada beberapa warga. Diluar gubuk, si Kecil Vani seakan-akan tidak mau kalah, meski sering kali di recokin sama Vano adiknya, kepandaiannya yang juga sangat tak terbantahkan itu, bagai mencambuk semangat anak-anak suku pedalaman untuk terus menuntut ilmu, meski bagaimanapun kondisinya.

***
Keputusannya sudah bulat, kebahagiaan hidup yang selama ini diimpi-impikan sudah di depan mata. Sejuknya kala pagi menyapa, damainya malam, rindanganya pepohonan, jernihnya sungai mengalir, ramahnya penduduk pedalaman yang sama sekali tak tersentuh kata modernisasi, dan tawa lepas anak-anaknya yang selama ini tak pernah dia lihat jika hidup di perkotaan semakin membulatkan tekadnya untuk terus menjadi bagian dari suku pedalaman ini.

Di pagi yang cerah, Haris pamit ke anak-anak. Selain untuk mendampingi warga melakukan seba kepada Gubernur Banten, pergi ke kampus untuk memberitahukan jalan hidup yang sudah dipilihnya, akan menjadi agendanya. Sebuah jalan hidup yang akan sangat disegani oleh orang suku pedalaman, namun akan sangat di cemooh oleh beberapa koleganya.

***
Mata Ratna masih merah dan sembab, pertanda kalau dia kurang tidur dan habis menangis semalaman. Hatinya kalut, teringat saldo tabungannya sudah menipis. Pekerjaan yang selama ini dia agung-agungkan telah lebih dari dua bulan dia tinggalkan. Sahabat-sahabatnya yang selama ini diajak berbagai suka, satu persatu menjauhinya. Bahkan pembantu yang telah lebih dari 6 tahun mengabdi, pergi tanpa pamit setelah seminggu yang lalu meminta gajinya, tapi malah hanya mendapatkan amarah dan cacian darinya.

Air matanya semakin deras mengalir, badannya terasa lelah, dan akhirnya dia kembali tersungkur dilantai, menangis dan hanya menangis yang saat ini bisa dia lakukan. Betapa selama ini dia telah salah mendewakan pekerjaannya. Membiarkan rumah tangganya hancur tak berkeping. Membiarkan anak-anaknya merasa asing dengan keberadaan dirinya.

Kringggggg…….
Suara keras dari telepon rumahnya, seakan-akan memotong kesedihannya. Memberinya harapan kecil akan keberadaan teman atau siapapun yang masih memperhatikannya.
“Halloo…”, segera diusapnya air mata di pipi, dan ditatanya nada suaranya agar terkesan tidak terlalu menderita.
“Apa benar ini Rumah Keluarga Haris?”
“Ya betul, saya Ratna istrinya. Ini dengan siapa ya?”
“Kami dari Kepolisian, hendak mengabarkan kalau Pak Haris mengalami kecelakaan dan meninggal dunia”.
“Tidak mungkin, tidak, ini pasti salah…, Ya Allah…. Ya Robbi tidak cukupkah cobaan yang kau limpahkan pada hambamu ini?”. Tidak didengarkannya lagi pemberitahuan pajang lebar dari Kepolisian itu, segera saja dia menuju rumah sakit yang disebutkan oleh Polisi tadi.

***
Lorong menuju Kamar Mayat ini, dirasakan begitu panjangnya. Dengan langkah sempoyongan dia terus menyusuri jalan yang akan membawanya melihat sosok kaku suaminya. Samar-samar dari kejauhan dia mendengar suara tangis pilu anak-anak.
“Anak-anakku, itu suara anak-anakku”, suaranya lirih merintih.
Semakin mendekati kamar mayat, semakin dipaksakan kakinya untuk lebih cepat. Dengan segenap dayanya, di dobraknya pintu kamar mayat itu. sejenak dia terpaku. Meski dia sangat yakin, sosok laki-laki yang telah di bungkus kain kafan dan ditangisi 2 anak kecil, adalah suaminya, namun masih sedikit terselip harapan akan sebuah mukjizat, kalau semuanya hanyalah kesalahan, semua ini hanya mimpi.

Sesampainya Ratna di depan mayat suaminya, segera disibaknya Kain Putih transparan yang dipakai sebagai penutup muka. Dipeluknya mayat yang sudah di sumpal kapas pada kedua mata dan hidungnya itu.
“Papaa……….maafkan aku Pa, maafkan aku…..”.
Tidak berapa lama kemudian, matanya tertumpu pada dua sosok anak kecil yang sepertinya mengambil sedikit langkah mundur itu.
“Anakku…., Vano…Vani…, ini Mama sayang, Mama sudah datang Nak, maafkan Mama, maafkan…”.
Kakinya sudah tak mampu lagi untuk sekedar berdiri, akhirnya dengan bertumpu di kedua lututnya, dia merengek, memohon ampun pada kedua anaknya. Seperti di komando, kedua anak kecil itu justru mencari perlindungan di balik sosok Wanita Tua renta yang tidak dia ketahui siapa. Dan sepertinya sebuah naluri keibuan telah menyuruh Si Wanita Tua memagari anak-anak dari jangkauan sang Mamanya sendiri.

“Siapa kamu, dia anakku, biarkan aku memeluknya, aku Mamanya…., aku Mama mereka”.
“Maaf bu, kalau saya ikut campur dalam keluarga Ibu”. Salah satu laki-laki yang berada dalam ruangan tersebut mulai angkat bicara.
“Nama saya Rano, saya asisten almarhum Pak Haris di suku pedalaman, dan kenalkan dia adalah Mimi, sosok asing yang sangat di sayangi oleh anak-anak Ibu, beliaulah yang selama ini merawat anak-anak Ibu jika berada di pedalaman”.
“Siapapun dia, aku Mama mereka, aku akan membawa pulang anak-anak”.
“Sekali lagi maafkan saya bu, kami semua tahu. Hanya Ibulah satu-satunya orang yang berhak atas anak-anak hebat ini, namun bagaimanapun kita harus memahami kondisi dan keinginan mereka saat ini. Ibu mengertikan maksud saya?”.
Sekali lagi dicobanya untuk menoleh ke wajah anak-anak mungilnya, berharap mendapat sedikit simpati dari mereka.
“Nak, aku sadar. Selama ini Mama memang bersalah. Tapi Mama mohon, ikutlah bersama Mama. Akan Mama perbaiki semua yang telah Mama rusakkan. Akan Mama obati semua yang telah Mama lukai. Maafkan Mama Nak. Mama mohon, pulanglah bersama Mama. Mama sangat sayang kalian”.
Semakin banyak yang anak-anak dengarkan, semakin ketakutan mereka. Di tariknya baju Miminya, untuk segera pergi dari tempat itu.
“Ayo pulang Mi, Bawa Papa, bawa Papa”.ujar si sulung Vani.
“Sabar ya bu, semuanya pasti akan baik-baik saja. Saat ini anak-anak masih tertekan jiwanya, saya mohon Ibu memaklumi kondisi mereka. Dan satu lagi, Almarhum Bapak berpesan, kalau beliau meninggal, Beliau minta dimakamkan di suku pedalaman, sedangkan masalah anak-anak beliau mempersilahkan untuk mereka sendiri yang memutuskan”.
Sejenak suasana kamar mayat yang awalnya ramai oleh tangisan, kini menjadi tenang tanpa suara.
“Baik, selama ini saya sudah terlalu banyak membantah kata-kata Beliau, maka sudah saatnya saya penuhi semua wasiatnya”.
Hemm…., Ratna menarik nafas yang mungkin terberat dalam hidupnya.
“Kapan bapak akan dimakamkan?”
“Hari ini Bu, kita akan menggunakan Helicopter, kalau anda mau ikut serta, kami persilahkan”.
***
Suasana pemakan sangat hening penuh keharuan. Di tatapnya satu-persatu wajah sedih yang jumlahnya lebih dari 100 orang itu, betapa selama ini begitu banyak yang mencintai suaminya, betapa banyak orang-orang yang begitu memperhatikan suami dan anak-anaknya. Lagi-lagi dia merasa sangat bodoh dan menyesal.

Diseberang makam, dilihatnya Vani sedang berdiri dan menebarkan bunga di makam Ayahnya, sedangkan si Vano tampak sibuk memperhatikan botol bekas air bunga, sambil sesekali menatap langit sore yang berarak awan.

Ketika iring-iringan dua helikopter sudah bersiap-siap hendak meninggalkan suku pedalaman. Tampak Ratna sedang bicara serius berdua dengan sang Asisten almarhum suaminya.
“Baik bu, saya yakin ini adalah yang terbaik untuk anak-anak, Ibu jangan khawatir, saya akan Bantu anda untuk lebih mendekatkan diri ke anak-anak, mereka adalah calon pendidik hebat”.
“Terima kasih mas”.
“Saya akan lakukan semua perintah Ibu. Insya alloh saya akan kembali dua minggu lagi. Ibu jangan khawatir, semua penduduk suku pedalaman sudah sangat mengenal anda, anak-anak sering bercerita tentang anda. Nanti Mimi akan saya minta untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan Anda butuhkan”.
“Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih mas”.
“Saya yang seharusnya berterima kasih pada Ibu. Selamat datang bu, selamat datang di dunia penuh kedamaian, saya yakin Bapak akan bangga dengan keputusan yang Ibu ambil sekarang”.
Setelah berjabat tangan, dilihatnya sang Asisten menuju seorang wanita paruh baya, yang dia ketahui bernama Mimi. Tidak berapa lama, Mimi datang menghampirinya, dan memelukknya hangat.

Vani dan Vano masih juga mengekor di belakang Mimi, meski mereka tidak tahu apa yang terjadi, namun tampak sekali kalau mereka sudah mulai bisa melihat pancaran kasih dari sosok Mama yang selama ini sangat di rindukannya. Meski sebuah pelukan belum Anak-anak berikan, namun sang Mama sangat yakin bahwa sebentar lagi pelukan itu akan dia rasakan dengan segenap jiwanya dan hanya untuknya.. The End


Read More......

7/31/2009

MAAFKAN AKU



Untuk semua sahabat yang merasa…., maaf kalau aku telah mengecewakan kalian, sungguh menjadi yang terbaik adalah impianku, meskipun hal itu teramat sangat mustahil bagiku, aku hanyalah seorang penulis amatiran, yang sering kali mengemis-ngemis ide dari sahabat-sahabat terhebatku, dan terkadang satu diantaranya memintaku mencerpenkan hasil curhatannya, jadilah aku “ghost writer” kelas teri, tanganku hanyalah penyambung lidah dan semangat hidup mereka-mereka yang memiliki kisah hidup sungguh luar biasa.



Ketika ceritanya harus berakhir sad ending, aku coba menyisipkan secuil harapan sebagai pengobar semangat hati-hati yang rapuh, namun jika harus berakhir happy ending, kucoba membumbuinya agar terasa lebih nikmat (masakan kalee…. he he he…)

Sungguh bukan maksudku untuk mendahului takdir ataupun mendekte hati-hati yang merasa tersangkut untuk mengikuti alur cerpenku ketika cerpen-cerpenku yang jauh dari kata bermutu ini menjadi nyata, aku hanya berusaha mengikuti ajakan kata hati dengan harapan akan ada wajah-wajah muram yang tertawa terhibur, wajah-wajah congkak menangis tersentuh dan juga ada yang berbaik hati melempar recehan (nah lho apa hubungannya??). Tapi yang lebih penting dari itu semuanya adalah adanya hati-hati ikhlas yang menuntunku untuk menjadi lebih baik dan baik lagi (Semoga, aminnn…).

Aku tidak bisa memaksa semua orang suka padaku, tulisanku dan apapun tentangku, dan aku juga tidak mungkin menjadi sosok in all section, tapi bagaimanapun juga, amarah kalian, makian kalian dan apapun yang kalian lakukan padaku, kuanggap sebagai salah satu bentuk dari rasa sayang kalian padaku, thanks a lot n’ I love u all my friends.


Read More......

7/28/2009

AWARD dan YAKINKU

Akan banyak orang yang jauh lebih sakit
Ketika aku harus sakit
Akan banyak orang yang meneteskan air mata
Ketika aku harus meratap


Akan banyak orang yang terampas tawanya
Ketika aku harus bersedih
Akan banyak orang yang berhenti terdiam
Ketika aku sedikit merasa lelah
Akan banyak orang yang mati jiwanya
Ketika aku mengeluh tak berdaya

Aku harus kuat, karena kekuatanku akan membakar semangatnya
Aku harus tetap tersenyum, karena senyumku menceriakan dunia mereka
Aku harus tetap berjalan, karena langkahku membangkitkan gairahnya

Aku sadar
Aku bukanah wanita hebat
Yang memiliki segala kesempurnaan
Tapi kuyakin satu hal
Aku dibutuhkan mereka-mereka yang merasa
Keberadaanku di rindukan mereka-mereka yang terkasih
Meski hanya sepercik, akan tetap kujaga nyala kalian
Meski hanya setetes, akan kucoba basahi hati lelah kalian

Hanya do'a polos dari mulut-mulut mungil yang kuharapkan
Sebagai penguat kaki tangan lelahku
Dalam mengisi sisa umurku

Special thanks ku untuk
Tistirabbani

Awardnya keren mbak, sekeren ketulusan hatimu
Membuka kedua tangan untuk menawarkan tali persahabatan
kupinang kau untuk menjadi sahabatku
kata-kata penuh semangatmu mampu menyulutkan kobaran api hidupku

special thanks juga untuk yang terkasih anak mayaku
inoel

Sapaan demi sapaanmu yang kocak tanpa beban
Membuatku berfikir betapa simplenya hidup ini
Keceriaan dan kesedihan kau jalani tanpa beda dan beban
Semoga aku tertular semangat hidupmu walau sedikit

NB : Maaf kalo kosa katanya maksa banget
Maklum amatiran nihhh hiks...

N' maaf juga baru bisa memajang awardnya sekarang
I love u al my friends, n never give up



Read More......

7/16/2009

SANG DUKUN TOGEL



DUKUN TOGEL HEBAT
MELAYANI PERMINTAAN ANGKA MANJUR
GRATIS !!!!!!



Setiap pagi ketika aku datang ke kantor, aku selalu merasa kesiangan dengan adanya sosok laki-laki yang sudah duduk manis di pojok kanan halaman kantorku, dengan senyum yang masih sama seperti beberapa hari belakangan ini, dia berusaha menyapaku, meski tak jarang hanya mendapatkan balasan berupa klakson mobilku, tampak sekali kalau dia berterima kasih akan hal itu. Umurnya belum terlalu tua, dengan rambut hampir separuhnya berwarna putih, tubuh kurus, mata cekung, dan selalu memakai topi miring berwaran coklat mirip topi keponakanku yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Secara diam-diam aku sering mengamati tingkah lakunya, kegiatan sehari-harinya selalu sama, duduk manis menatap ke jalan raya, sambil mulutnya tak berhenti komat-kamit dengan sesekali tangannya menuliskan sesuatu di dinding bagian luar pagar kantorku, aku tidak tahu atau lebih tepatnya tidak peduli, sudah berapa lama dan sejak kapan dia berada disana, dengan bermodal kursi kayu lapuk sebagai alas duduknya, yang juga tidak kuketahui darimana dia mendapatkannya, dia sudah datang pagi-pagi sebelum aku datang kerja, dan masih nampak duduk termenung saat jam kerjaku telah usai.

Ketika rasa penasaran ini sudah mencapai titik klimaksnya, berbekal nasi kotak sisa meeting tadi siang kucoba mulai mendekati dia, meski rasa was-was sedikit membebani kerja jantungku, akhirnya berhasil juga aku mengajaknya ngobrol.
“Hem hem…..Sore Pak, lagi apa neh?”, kucoba membuka percakapan diantara kami sore itu sambil tak lupa kuserahkan nasi kotak yang kubawakan untuknya.
“Duhhh…., apa Neng hendak mengusir saya?”. Tebaknya tiba-tiba sambil sedikit mengambil langkah mundur, meski akhirnya maju kembali sambil buru-buru menyambar kasar tawaranku.
“Lho kenapa mesti saya usir?”
“Bener Neng, Bapak tidak akan diusir???”
“Iya Pak”, tegasku waktu itu dengan nada bicara yang kupaksakan sedikit melunak.
“Makasih Neng, makasih”, jawabnya sambil bersujud dikakiku.
Aku terperanjat kaget melihat tingkahnya, segera saja kucoba mengangkat tubuhnya sebelum akhirnya kami menjadi tontonan gratis orang yang lalu-lalang, takut aja kalau mereka berfikir aku digoda sang lelaki aneh ini, kan gak lucu, Diandra sang wanita karir, yang selama ini selalu memilih-milih lelaki yang mencoba mendekatinya, ternyata ditaksir lelaki tua kumal yang tak jelas asal-usulnya ini, ihhhh…. apa kata Dunia???
“Oke, oke…Bapak tidak akan saya usir, tapi dengan satu syarat”.
“Duh, Apa Neng syaratnya?, saya harus bayar ya?”
“Tidak, Bapak tidak perlu bayar, tapi Bapak harus menjelaskan apa yag bapak kerjakan disini?”. Tanyaku kemudian hendak memulai penyelidikkanku.
“Duh malu neng!”, jawabnya sambil tersipu-sipu.
“Kenapa malu?, kalau Bapak merasa malu berarti kegiatan Bapak bisa memalukan kantor kami dong, dan itu berarti Bapak harus kami usir!!”. Jawabku dengan sedikit menekan
“Jangan Neng, jangan, hanya ini harapan bapak satu-satunya, tolong Bapak Neng jangan usir Bapak, besok adalah hari terakhir Bapak disini”.
“Harapan??, harapan apa, dan kenapa mesti nunggu besok??”
“Gini ceritanya Neng, beberapa waktu yang lalu Bapak mendapat wangsit yang datang melalui mimpi, Bapak disuruh menghitung berapa jumlah mobil, jumlah motor dan segala macam jenis kendaraan lainya yang melewati di jalan depan kantor Neng ini!”
“Buat apa???, Kayak kurang kerjaan saja”
“Anu Neng, saya…, saya mau meramal angka togel”, jawabnya malu-malu sambil menundukkan kepala.
“TOGEL????, apa hubungannya dan kenapa mesti di jalan ini, dan kenapa juga mesti didepan kantor saya?”
“Soalnya, didalam mimpi itu saya harus berada di sudut jalan yang memiliki 5 persimpangan, dan saya harus tepat menghadap utara, dan hanya kantor Neng saja yang arahnya tepat sesuai dengan wangsit di mimpi saya”.
“Hah !!!, aduhhhh…entahlah, pusing saya, terserah Bapak deh, asal jangan bikin keonaran dan kotor kantorku aja !”. kataku kemudian sambil sedikit bernada mengancam
“Baik Neng, saya akan lakukan semua pesan Neng, tapi Neng, saya mau minta tolong satu hal ke Neng, bantu saya Neng”.
“Minta tolong apaan??, gak punya uang untuk main Togelnya??”.
“Bukan Neng, bukan itu, didalam mimpi saya, yang menjumlahkan angka-angkanya harus seorang gadis yang berambut panjang, dan wajahnya mirip dengan Neng”.
“Apa itu artinya saya yang harus menjumlahkannya???”
“IYA, mau ya neng, ya”.
“Nah lho????, gak mau, gak mau…, kecipratan dosanya nanti saya, enak aja, cari orang lain gih…”.
“Tolonglah Neng, wanita cantik berambut panjang yang Bapak kenal hanya Neng seorang”.
“Ihhhh…, Bapak ini, maksa banget sih, tahu gini tadi aku gak nyapa situ!!!”.
“Sekali ini… saja, ya Neng”.
“Tau ah, kita lihat besok aja”, jawabku asal sambil bergegas meninggalkan orang yang kuanggap sudah sedikit tak waras ini.
“Terima kasih Neng, atas bantuannya”, serunya dengan suara keras setelah aku sudah sedikit menjauh dari tempatnya, seolah-olah aku sudah memberikan kepastian untuk membantunya besok dalam penghitungan angka-angka yang dia maksudkan itu, ihhh membuatku makin bete aja.

Tak seperti biasanya, kali ini Bapak Tua yang biasanya memakai topi miring itu tampil lebih klimis tanpa topi, bajunya juga terlihat sedikit rapi, aura kebahagiaan terpancar sangat jelas dari raut mukanya, dengan pedenya dia mengekor dibelakang mobilku yang hendak kuparkir di sisi kiri halaman kantorku, dengan gaya tukang parkir profesional dia mengarahkan aku, lengkap dengan servis membuka pintu gratis, aku hanya tersenyum kecil dengan semua yang dia lakukan, meski sedikit merasa geli dengan tingkahnya, kucoba menahan tawaku agar tidak meledak, kulihat dia sedikit ragu-ragu hendak memulai pembicaraan denganku.
“Anu neng, nanti jadikan bantu Bapak??”.
“Menurut wangsit Bapak, kapan saya harus menjumlahkan angka-angka itu?? harus tengah hari, atau justru tengah malam???” jawabku masih dengan menahan geli campur sedikit dongkol dihati.
“Terserah Neng saja, yang penting sebelum senja, nomor itu sudah harus saya dapatkan”.
“Ya sudah sekarang aja, biar aku gak makin stress, mana angka-angka yang harus saya jumlahkan???”.
“Disana Neng, didinding pagar kantor Neng”.
“Hah…, kamu mencoret-coret dinding kantorku?”, tanyaku dengan bernada sok marah sambil pura-pura tidak tahu tentang kegiatannya mencorat-coret tembok kantorku.
“Maaf Neng, nanti saya bersihkan kok”.
Masih dengan sedikit dongkol kuikuti saja kemana langkah Bapak aneh ini, dan alangkah terkejutnya saya ketika yang diamksud angka-angka oleh sang Bapak hanyalah sebuah coretan-coretan tak jelas, jangankan bisa dihitung mengenali jenis angkanya saja aku tak bisa, bener-bener gak waras neh orang, hatiku jadi makin geregetan dengan ulahnya.
“Ini mah bukan angka Pak, ini luksian abstrak!!”. Ujarku asal sambil menahan rasa keterkejutanku.
“Apa yang dijumlahkan??, dibaca aja nggak bisa, masak aku harus menjawab ngawur sih?” lanjutku
“Terserah Neng deh, yang penting jumlahkan semuanya”.
Ihhhhh.. bener2 gak waras neh orang, daripada makin bete dan pusing gak jelas, sambil pura-pura mikir kucoba menjumlahkan lukisan asbtrak yang ditulis dengan bongkahan batu bata di dinding pagar kantorku, masih dengan gaya sok jenius aku ucapkan dengan lantang empat digit angka ke Beliau.
“4599, itu hasil penjumlahannya, sekarang tugasku selesai, jangan gangu aku lagi, dan pergilah sejauh-jauhnya dari kantorku, dan satu hal lagi jangan lupa membersihkan lukisan abstrak Bapak ini”, tegasku sambil mencoba mengusir kasar sang Bapak.
“Matur nuwun Neng, terima kasih, Eneng memang bener-bener dewa penolongku, 4599 ya Neng nomor nya tadi”.
“Ya…, ya kali, tau ah lupa”, jawabku klimpungan sambil ngeloyor pergi, orang aku tadi jawabnya asal, ditanya lagi ya sudah lupa, emang gue pikirin.

Bagai mendapat rejeki nomplok, kulihat sang laki-laki aneh itu berjingkat-jingkat sambil bergoyang kegirangan, mulutnya menyenandungkan lagu bengawan solo, bukannya merdu, tapi malah terdengar aneh ditelingaku, gimana nggak aneh lagu bengawan solo kok ada kata-kata merdekalah bangsaku di bagian akhir lagunya. Entahlah, kenapa juga aku mau bantu Bapak tadi, ini Beliau yang kurang waras atau aku ya??, kurebahkan tubuhku di sofa, setelah aku berhasil sampai ke ruang kerjaku dengan selamat.

Sebuah ketukan di pintu membuyararkan lamunanku, seorang OB masuk membawakan teh dingin tanpa gula pesananku, dan sebelum dia keluar kuceritakan kejadian pagi anehku kepadanya, tapi bukannya rasa simpati yang kudapatkan, tapi ketawa panjang terbahak-bahak yang diberikan sebagai tanggapan atas curhatku, seolah-olah ingin mengatakan kalau aku jauh lebih nggak waras dari sang lelaki yang aku ceritakan. Segera saja aku usir sang OB, yang bukannya membuatku mendapatkan ketenangan tapi justru makin membuatku stress tak jelas.

Pagi ini, aku datang ke kantor seperti biasanya, kulihat di pintu gerbang sang lelaki tua yang dulu selalu tampil kumal dengan topi miringnya sedang bercakap-cakap akrab dengan OBku, sengaja kukeraskan klakson mobilku, agar acara rumpian mereka tidak menghalangi jalanku. Dengan penuh semangat tampak silelaki berlarian mengekor di belakang mobilku sambil membawa sebuah bungkusan kecil yang terbungkus rapi kertas kado, setelah aku selesai memarkir motorku, beliau langsung menyerahkan bungkusannya kepadaku, meski ragu-ragu keterima saja hadiah itu.
“Dalam rangka apa nih Pak memberiku hadiah, perasaan ini bukan hari ulang tahunku?”
“Hadiah ini aku berikan ke Eneng, sebagai ucapan terima kasih ku, berkat Neng, aku jadi menang togel 4 angka, sehingga aku jadi punya uang untuk membangun rumah reyotku, dan juga punya modal untuk membuka warung kecil di rumah”.
Mataku melotot kaget tak percaya, nomor yang kusebut dengan asal itu ternyata menguntungkan Sang laki-laki ini, apa gak salah??, atau jangan-jangan aku ada keturuan darah dukun??, sehingga apa yang aku ucapakan secara asal bisa manjur??, tidak mungkin… ini pasti hanya sebuah kebetulan saja. Meski rasa keterkejutanku belom sepenuhnya kembali normal, kucoba untuk mengucapkan beberapa patah kata kepada sang lelaki tua sebagai tanda penghargaan atas kebaikan hatinya memberiku hadiah.
“Apapun yang terjadi kepada Bapak, itu bukan karena jasaku, kebetulan saja Yang Diatas memberikan rejekinya melalui saya, semoga bermanfaat ya Pak”.
“Ya Neng, terima kasih atas semuanya ya, semoga Neng selalu mendapatkan kebahagiaan, dan didekatkan jodohnya, aminnn”. Do’anya lancar tanpa kuminta.
Dan bisa ditebak, akunya yang sewot kalo mendengar do’a tentang jodoh, jadi merasa sangat nggak laku aja, padahal sih emang iya, hiks…, lagian darimana beliau tahu kalau aku belom punya gebetan, hemmm.. jangan-jangan ini hasil dari ngrumpinya sama OB tadi pagi
Kulemparkan senyum termanisku kepada Beliau lengkap dengan ucapan terima kasih sebelum akhirnya kupamit masuk ke kantor, ketika hendak masuk tanpa sengaja kulihat OBku mencuri-curi dengar obrolan kami di balik dinding pembatas dapur kantorku, dan ketika tanpa sengaja mata kami beradu, kuacungkan genggaman tanganku sebagai tanda aku keki padanya.

Setibanya aku di ruang kerja, segera kupanggil OB untuk memesan beberapa minuman dan makanan ringan, karena sebentar lagi akan ada meeting, namun aneh kali ini OBku tampil kayak pelayan restoran, lengkap dengan kertas dan pensil, kuperhatikan dia sangat serius mencatat semua pesananku, gayanya tak jauh beda dengan anak sekolahan yang sedang memikirkan rumus matematika yag super njlimet. Kucoba mendekati dia, yang sepertinya tidak menyadari kehadiranku disisinya.
“Buat apa nih???, kamu mau mencatat setiap angka yang keluar dari mulutku, berharap bisa dijadikan nomor taruhan untuk bermain togel ya???”
“Eh, ah, emmm… anu.. saya”.
“Kamu ingin apa yang terjadi pada laki-laki aneh kemarin, tertular padamu begitu???, tanyaku bertubi-tubi.
“Maaf bu, he he he….. iya”, jawabnya pelan nyaris tak terdengar.
Tawaku meledak ketika kutahu jawabannya, kali ini keisenganku muncul tanpa perasaan, aku ingin sekali lagi mencoba keampuhan bicara asalku, sambil mencoba bertaruh dengan diri sendiri tentang kemampuanku sebagai seorang dukun togel, tanpa berfikir panjang kusebut saja 4 digit angka yang kemudian dengan secepat kilat di tulis di telapak tangannya oleh OBku, dan tanpa pamit dia segera ngacir keluar ruanganku, kudengar beberapa pegawaiku kasak-kusuk dengan sang OB, hemmm… aku yakin OBku telah mengumumkan kepada beberapa pegawai untuk ikutan main togel dengan memasang nomor yang baru saja kusebutkan.

Lagi-lagi tawaku meledak tanpa sebab, meski hatiku sedikit kebat-kebit menunggu hasil kemanjuran 4 angka yang telah aku lupakan berapa nominalnya, sedikit terselip sebuah do’a pengharapan kepada Sang Pemilik Kehendak, agar kali ini 4 angka itu bukan menjadi angka manjur yang semakin membuatku mendapat sebuah predikat sebagai sang dukun togel.

Bukannya tanpa sebab jika kali aku datang kekantor lebih pagi, namun rasa penasaran akan hasil ramalan angka togelkulah yang memaksaku untuk segera sampai di kantor, setibanya aku di dalam ruang lobby kantorku, kulihat OB duduk termenung di dekat pintu utama, beberapa pegawai memasang muka kecut di meja kerjanya, hemmmm.. sepertinya nomor yang kusebutkan tak mendatangkan rejeki bagi mereka, meski tak seorangpun mengatakan demikian tapi wajah-wajah tertunduk lesu tanpa semangat itu telah menceritakan lebih detail dan panjang lebar tentang segala yang telah terjadi.

Masih dengan gaya tanpa dosa, lengkap dengan siulan keras sebagai upaya menarik perhatian, kutempel sebuah pengumuman singkat berukuran A3 yang sengaja kubuat semalam.

DUKUN TOGEL HEBAT
MELAYANI PERMINTAAN ANGKA MANJUR
GRATIS !!!!!!

Tepat seperti dugaanku, kali ini tak seorangpun berniat mencari peruntungan dengan bermain tebak-tebakan angka denganku, meski pengumuman ini kupasang lebar-lebar diposisi yang sangat strategis, terbukti tak seorangpun yang girang melihat pengumuman ini yang ada malah pada ngacir menjauh meski tak jelas kemana tujuannya. “He he he…. Kasiaaaann deh lo….emang enak di kibulin” ucapku kegirangan dalam hati



Read More......

6/27/2009

WAJAH-WAJAH MUNGIL


Tanpa kusadari setitik embun menetes dari sudut mataku, saat kusaksikan anak terhebatku untuk beberapa waktu lamanya tertawa bahagia sambil teriak-teriak tak jelas dibalik pagar besi bergembok rumah kami, seolah-olah ingin memberitahukan keberadaan dirinya kepada teman-teman sebayanya yang sedang asyik bermain layang-layang didepan rumah kami, mungkin dia ingin mengatakan kepada sekelilingnya
“Aku disini, ajaklah aku main, aku akan bisa seseru kalian juga”.



Sebelum tetesan-tetesan bening airmataku berhamburan keluar dari bendungannya, buru-buru kuseka air mataku, dan segera kubuka paksa gembok pagar besi rumahku, kutuntun anakku keluar untuk ikut serta berbaur dengan teman-temannya, kulihat anakku lebih bahagia daripada sebelumnya, kali ini tubuhnya mulai bergerak bebas, sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggamanku yang memang tak pernah lepas sedetikpun jika dia sudah keluar dari rumah.

Anugerah nama anakku, dengan penuh harap dan do’a nama itu kusandangkan padanya, saat ini dia telah berumur hampir 7 tahun, secara fisik tidak ada bedanya dengan anak nomal pada umumnya, badannya sehat bahkan bisa dikatakan gemuk, geraknya lincah, apalagi kalau dia sedang tertawa sungguh sangat lucu menggemaskan, kalau dilihat secara sekilas nyaris tak seorangpun yang mengetahui bahwa anak kami memiliki kebutuhan khusus.

Telah lebih dari 5 menit dia menikmati keceriaan diantara teman-temannya, senyumkupun mulai sedikit mengembang menyaksikan kebahagiaannya, sampai kusadari gerakannya mulai tak terkendali, berputar-putar tanpa arah hingga akhirnya mulai mengamuk tak jelas, dengan susah payah kucoba untuk meredakan emosinya, tapi ternyata usahaku sia-sia, kucoba kutarik paksa untuk masuk kerumah, dia tidak mau, kugendong juga tidak mau, sampai akhirnya datang Papanya yang dengan sigap membopong paksa anakku untuk segera masuk kembali kedalam rumah.

Kusaksikan semua pemandangan ini dengan hati pilu sambil berlinangan air mata, teman-temannya yang sedari tadi bermain dengan anakku kulihat berhamburan menghindar mencari perlindungan sembari berkasak-kusuk, entah karena merasa malu ataukah karena rasa kesalku yang tiba-tiba memuncak hingga tanpa sengaja mulutku berucap lantang kepada mereka.
“Kalian jangan takut, anakku tidak akan menyakiti kalian, kemarilah, mainlah kembali bersama anakku”.
Namun bukannya pengertian bocah-bocah yang masih belum mengerti akan merah hijaunya hidup yang kudapatkan, tapi justru keheningan karena semua anak justru secepat kilat berlari pulang sembari tak lupa menutup rapat-rapat pintu rumah mereka.

Kejadian semacam ini tidak sekali dua kali terjadi dalam hidup kami, sekali waktu anakku juga pernah mengamuk tanpa sebab di sebuah supermarket, hingga merusakkan beberapa barang dan membuatku mengeluarkan anggaran extra untuk mengganti kerugian pihak supermarket. Tapi semua kejadian itu tidak serta merta membuatku malu dan merasa minder memiliki anak seperti dia, sekali-kali aku masih tetap membawa anakku keluar rumah, sekedar jalan-jalan diseputaran kompleks perumahan, kepasar, ketaman bahkan ke acara resmi lainnya.

“Maafkan aku anakku, maafkan aku yang sampai sekarang masih belum bisa mengartikan arti luapan emosimu, beri aku sedikit waktu, sedikit saja, untuk memahami gerak tubuhmu, mengartikan segala luapan emosimu, sebentar lagi nak, sebentar lagi, aku pasti bisa, pasti!!!”.

Ujarku pelan bahkan nyaris tak terdengar oleh siapapun, setelah kurasakan keheningan telah menjadi temanku.

Dengan langkah sempoyongan sambil menundukkan pandangan, kupaksakan kakiku untuk segera masuk ke dalam rumah, tampak suamiku berusaha keras meredam emosi anakku, badanku sudah berasa lemas tak bertenaga, kuhempaskan sekeras mungkin tubuhku disofa ruang keluarga, berharap segala emosiku turut terhempas menghilang dari jiwa letihku, hatiku merintih menahan sakit yang sampai sekarang tak mampu kuartikan maknanya, sayup-sayup kudengar teriakan bercampur tangisan anakku yang mulai mereda, hingga akhirnya hanya kesunyian yang aku dapati.

Masih jelas terekam di otakku, bagaimana gambaran perasaanku ketika untuk pertama kalinya kudapat kabar bahagia kehamilanku, sebagai seorang wanita yang sudah lama ngebet punya momongan, maka ketika hasil tes pack mengatakan kalau aku positif hamil, layaknya orang yang kesetanan segala macam buku dan literature tentang bayi dan anak kulahap habis, berbagai macam seminar ibu dan bayi kuikuti, bahkan tak jarang aku bertanya kesana-kemari tentang berbagai hal yang sepertinya bertumpuk-tumpuk tak terhitung dalam otakku, hanya demi satu harapan, aku ingin menjadi Ibu hebat untuk anak terhebatku.

Tanggal 8 Juni 2002 tepat pukul 11:00 WIB, kutambah lagi satu makluk di dunia ini dengan keberadaan bayi kecilku, anakku lahir dengan selamat tanpa operasi, kata “Amazing” saja mungkin tidak cukup untuk menggambarkan suasana hatiku saat itu, namun bagiku kata itu adalah ungkapan segala rasa yang aku miliki, aku masih tergugu tak percaya ketika kulihat sosok mungil yang kini ada diatas dadaku ini adalah anakku sampai sebuah tangisan parau menyadarkanku bahwa I am Mom now.

Saat itu, kulihat sekeliling, ada suamiku yang memberikan senyum anehnya, disampingnya tampak dokter yang telah membuka maskernya, dan beberapa perawat yang berdiri mematung disekelilingku, bagai sekumpulan malaikat yang sedang menyaksikan keindahan hadirnya seorang anak manusia ke dunia. Suamiku mendekat kepadaku, tangan kirinya menyentuh pipiku, sedangkan tangan satunya mengelus mesra rambutku, yang kemudian ditutup dengan sebuah kecupan lembut dikening, Dokter sedikit mendekat kepada kami, tangannya memberi isyarat kepada para perawat untuk meninggalkan ruangan, entahlah saat itu aku merasa ada sesuatu yang telah terjadi, firasatku mengatakan ada yang tidak wajar atas diri anakku. Benar saja setelah semua perawat meninggalkan kami, dokter memulai bicaranya, pelan, jelas dan sangat singkat.

“Maaf ini harus saya katakan, anak anda terkena Down Syndrom”.

Aku kaget, bukan kaget karena tak mengerti arti penyakit tersebut, tapi aku kaget karena kenapa berita itu hadir sejenak setelah kebahagiaan baru saja aku reguk, kenapa Tuhan tidak memberiku sedikit jeda agar aku bisa puas dengan kebahagiaanku walau sejenak, namun sungguh aneh meski aku kaget bercampur sedih, tidak sedikitpun air mataku keluar kali ini, ada sebuah rasa yang sangat menghentak-hentak dadaku, yang ku pahami sebagai sebuah rasa sayang seorang Ibu kepada sang anak hingga mampu mengalahkan segala rasa keterkejutanku atas penyakitnya.

Sekali lagi kutatap lekat-lekat anakku, wajahnya lucu, mulutnya mungil, rambutnya hitam tebal, pipinya chubby menggemaskan, badannya juga sangat gemuk, bagaimana mungkin sebuah penyakit bersarang pada dirimu nak, kamu tampak sehat, apakah ini hanya sebuah kesalahan diagnosa saja?, ataukah memang ini sudah takdir. Kuberanikan diri mengajukan pertanyaan kedokter yang lebih tepatnya sebuah protes, meski aku yakin akan mendapat sebuah jawaban panjang dan lengkap dengan teori-teori ilmu kedokteran yang semakin membuatku bingung tak mengerti.
“Lihatlah dok, dia begitu lucu, badannya sehat, selama hamilpun aku tidak merasakan kejanggalan apapun, bagaimana mungkin anda bisa mengatakan anakku sakit???”.
Ternyata tebakanku meleset, dokter tidak memberikan jawaban panjang lebar, hanya sebuah ungkapan singkat yang mampu membuatku tersentak hebat.
“Cintai dia sepenuh hati anda, karena dialah pembuka pintu surga kalian kelak”. Kudengar dokter berkata penuh tekanan, dengan tatapan mata sedikit basah, yang pada akhirnya kutahu bahwa kami sama-sama memiliki anak dengan kelainan sejenis.

Perlahan kutolehkan kepalaku ke arah suami, kucoba menatap matanya, mencari tahu apa yang sedang dia pikirkan, namun ternyata yang kudapatkan hanyalah sebuah tundukan kepala, tangannya masih menggenggam erat jemari tanganku, aku merasakan betapa jiwanya sedang bergemuruh hebat, dengan mata memerah menahan segala gejolak dihati suamiku mulai berbicara.
“Kamu sedih Ma?, kamu tidak menerima takdir ini??” Tanyanya mencoba menebak isi hatiku sambil mencoba menatap lekat mataku.
“Tidak, bukan itu yang aku pikirkan, aku sedih karena aku tidak siap melihat kekecewaanmu, takut melihat penolakanmu”.
“Kamu salah Ma, aku tidak sedih atas takdir anakku, justru aku bahagia karena Tuhan mempercayakan bayi imut dengan segala keunikannya ini kepada kita, kita termasuk orang pilihan Ma, kesabaran kita akan diuji, tidak hanya untuk waktu sebentar tapi untuk seumur hidup kita”
“Benarkah ini kamu Pa??, darimana kamu dapatkan kekuatan ini sehingga mampu membuatmu tegar seperti ini, maafkan aku Pa, maafkan atas kecengenganku, bantu aku Pa, bantu aku agar bisa menjadi tegar dan kuat sepertimu”. Sahutku waktu itu.

Lamunanku terhenti ketika sebuah sentuhan lembut mendarat di pundakku, dengan suara khasnya suamiku berkata padaku.
“Anugerah sudah tidur Ma, kamu sekarang istirahat ya !!!”.
“Nanti saja Pa, aku masih ingin berleha-leha dulu disini”. Jawabku dengan sedikit merengek manja
“Kalau aku gendong kekamar, dan aku temenin tidur, apa masih juga menolak??”.
Kutatap lekat-lekat suamiku, sosok pria yang sangat mengerti akanku, keromantisannya selalu tepat pada waktunya, membuatku merasa mendapat sedikit hembusan angin surga dalam setiap lelahku.
“Ma, kapan nih Anugerah punya adik lagi?”.Tanya suamiku tiba-tiba setelah kami berdua sudah berada di dalam kamar.
“Maaf Pa, aku belum siap, aku masih trauma”.
“Kalau kamu seperti ini terus, itu sama halnya kamu menghukum diri sendiri, apa yang sekarang terjadi pada Anugerah itu bukanlah karena kesalahan kamu, bukan pula karena penyakit keturunan, tak ada yang perlu kamu khawatirkan, kalau nanti kamu hamil lagi tak berarti anak kita berikutnya memiliki kelainan yang sama dengan Anugerah”. Entah sampai kapan suamiku akan merasa lelah dan akhirnya berhenti merayuku untuk segera hamil lagi, tapi hatiku masih seperti dulu, beku, keras dan penuh dengan ketakutan yang tak begitu kuyakini kenapa..
Kutarik selimutku dan kubalikkan badanku membelakangi suamiku yang masih menunggu jawabanku, entah karena rasa pengertiannya yang luar biasa atau memang dia sudah merasa kalah, dibiarkannya diskusi ini menggantung tak berujung final.
“Maafkan aku Pa, beri aku sedikit waktu untuk menata hati ini”, bisikku tanpa suara bersamaan dengan bulir-bulir air mata yang tiba-tiba mengalir deras tak terbendung.

Suatu hari di awal bulan yang cerah
“Pa, aku hamil lagi, lihat Pa, lihat hasil tes pack ini, apa aku salah membacanya??”. Teriakku girang waktu itu, setelah kuketahui aku hamil lagi, yaa…., meskipun masih sedikiti was-was akhirnya kululuskan permintaan bertahun-tahun suamiku untuk menambah satu lagi keberadaan makhluk kecil dalam keluarga kami.
“Tidak Ma, kamu tidak salah, kamu hamil lagi, terima kasih Ma, terima kasih Tuhan“ Jawab suamiku yang tak kalah bahagianya, sambil berkali-kali mendaratkan ciumannya sambil memelukku erat.
Namun tiba-tiba aku merasa rasa lama itu datang lagi, pikiranku mendadak gamang, air mataku tumpah tanpa sebab, dan badanku terasa lemas tak bertulang, hingga tanpa sadar aku sekarang telah terduduk di lantai.
“Kamu kenapa Ma??, apa yang terjadi Ma, mana yang sakit??” tanya suamiku bertubi-tubi penuh khawatir.
“Pa, kalau ternyata anak kedua kita terlahir sempurna tanpa cacat, aku takut Anugerah tidak lagi mendapatkan porsi cinta yang semestinya dari kita, sedangkan kalau ternyata anak kedua kita tak jauh beda dengan Anugerah, aku tak yakin bisa lebih tegar dari sekarang”. Jawabku setelah sekian detik hanya mampu terdiam.
“Tidak Ma, akan kupastikan cinta kita terbagi merata, apa dan bagaimana anak-anak kita kelak kita akan mencintainya tanpa perlu bertanya mengapa”.
“Kalau sebuah keadilan tidak berada pada tempat yang semestinya, jangan pernah merasa letih untuk terus mengingatkanku ya Pa”.
“Selalu Ma”, berdua kami saling berpelukan.

Berita bahagia yang aku tunggu-tunggu pun tiba, dokter memastikan anak keduaku kelak akan lahir dengan selamat tanpa cacat, bukanlah suatu hal yang berlebihan jika sebagai seorang wanita sekaligus Ibu dengan riwayat pernah memiliki anak down syndrom, membuatku selalu berkawan dengan rasa ketakutan, namun sepertinya kali ini Tuhan memberikan ijinnya padaku untuk mengecap rasa indah yang tak sama, sebuah rasa yang selama ini hanya bisa aku bayangkan saja dan sebuah rasa yang tak jarang membuatku miris ketika harus menyaksikan bayi-bayi lucu dan menggemaskan anaknya teman, tetangga atau orang yang kebetulaan lewat.

Sembilan bulan selama masa kehamilan anak keduaku, bagai menunggu meledaknya sebuah bom nuklir, rasa was-was tak jelas bercampur kekhawatiran selalu menjadi penghuni tetap hati rapuhku, dan akhirnya hari “H” itupun tiba, bayi mungil berjenis kelamin perempuan terlahir dengan sempurna dari rahimku, tangis lengkingnya seolah-olah memberikan tanda akan hadirnya warna kebahagiaan baru dalam hidupku, sengaja kudekatkan sang kakak yang sedari tadi menunggu di luar ruangan bersama Papanya agar bisa melihat langsung adik mungilnya, dengan senyum lucunya dia memegang kasar sang adik, kubiarkan saja dia berlaku demikian karena kuyakin disentuhannya itu ada bahasa cinta yang mungkin tak kumengerti, lagi-lagi air mataku menetas tanpa sebab, kucium lembut pipi chubby anak pertamaku, dipamerkannya gigi ompongnya ke padaku dan tiba-tiba dengan terbata-bata tak jelas anak pertamaku menyebutkan kata itu, sebuah kata yang selama lebih dari 8 tahun sejak aku melahirkannya tak pernah sekalipun keluar dari mulut mungilnya, yaa.. kata itu adalah”Mam”.

Kali ini tangisku meledak lebih hebat dari biasanya, betapa tiga huruf itu bagai sebuah energi cinta yang mampu mengguncang jiwaku, dengan susah payah dibantu suami kupeluk erat kedua anakku, sambil memantapkan sebuah azam dihati, untuk tidak pernah membanding-bandingkan, dan tak akan pula pernah memberlakukan hukum matematika penambahan dan pengurangan atas berat timbangan kasih sayang diantara keduanya.

Ya Allah Ya Robbi

Jangan pernah kau tinggalkan hamba ini
Walau hanya sekejap
Limpahkanlah selalu suntikan semangat-Mu
Agar kami selalu tegar mendampingi titipanmu
Hanya mereka yang kami miliki
Maka Bimbinglah hamba yang bodoh ini
Untuk menjaga dan merawatnya
Dan menjadikan mereka salah satu umat
Yang tidak sekedar membebani kerja bumi
Namun lebih dari itu



Read More......

5/25/2009

MISTERY SANG WANITA TAMAN


21 April ‘09
Mataku tercengang penuh takjub, kulihat sesosok wanita luar biasa sedang duduk termenung di bangku sudut taman, pesona indahnya mengusik rasa aneh di hatiku, entah sudah berapa lama kamu duduk termenung di sana, hilir mudik manusia disekitarmu tak mampu mengusik kesendirianmu, nakalnya angin mempermainkan rambut lembutmupun tak membuatmu sekedar bergeming, kamu masih setia dengan tatapan itu, sebuah tatapan kosong yang tak berarah

Gerimis datang mengguyur seluruh taman secara tiba-tiba, semakin lama semakin terasa deras, hingga mampu memaksa semua orang yang merasakan rintiknya hujan berteduh untuk sekedar menghindar dari kebasahan, namun tidak denganmu, kamu justru nampak menikmati setiap tumpahan air dari langit itu, bahkan kamu mulai mengangkat kedua tanganmu, menadahkan kepalamu keatas, lengkap dengan senyum lebar yang kuartikan penuh keanehan, mulutmu mulai terbuka, mengeluarkan suara aneh yang tak seorangpun paham akan artinya, semakin deras hujan mengguyur bumi semakin keras pula bibirmu berteriak, yang pada akhirnya kutahu teriakan itu hanya sebuah kata “akhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”.

22 April ’09
Kamu terlihat sedang menangis sesenggukan, didekatmu tampak berdiri dengan angkuhnya seorang pria, sepertinya sedang menahan emosi yang teramat berat, bicaranya kasar tak jelas, beribu-ribu kata makian terlontar berjejer rapi, matanya melotot, dadanya naik turun tak beriurama, seolah-olah ingin memuntahkan segala uneg-uneg di hati terdalamnya.

Sungguh pemandangan itu mampu memancing rasa penasaranku, bagaimana mungkin seorang pria tega memarahi wanita cantik dan lemah seperti dia, tidakkah hatinya mampu terluluhkan dengan sorot mata sendu sang wanita, tidakkah tangannya merasa tergerak untuk sekedar memeluk dan mengangkat siwanita agar tidak lagi terduduk lemah ditanah seperti itu. Siapa si laki-laki itu??, siapa wanitanya, apa yang sedang terjadi diantara mereka, berbagai-macam pertanyaan terasa meloncat-loncat hendak keluar dari mulutku yang sedari tadi diam membisu, terbius adegan memilukan ditaman senja itu yang berakhir dengan seretan paksa silelaki terhadap wanitanya. Tiba-tiba aku merasa hatiku sedikit tercuri oleh siluet wajah mendungnya sangwanita.

23 April ‘09
Entah kenapa aku merasa seolah-olah kaki ini memaksaku untuk kembali ke taman, ada rahasia indah yang ingin aku artikan ditaman itu, ada sosok yang aku harapkan ada disana, sosok wanita yang meski tidak terlalu aku kenal, namun entah mengapa keberadaannya mampu mengalihkan alur hatiku, berbelok arah menjadi pengagum rahasianya.

Ternyata kakiku tidak salah, aku menemukan sosok itu lagi, duduk termenung sendiri, masih dibangku yang sama, matanya tidak sesendu kemarin, sudah tergambar sedikit keceriaan diwajah ayu itu, meski aku yakin dia bisa lebih ceria dari itu.

Telah lebih dari satu jam, aku menikmati kediamanmu, sampai tiba-tiba seorang laki-laki seumuranku yang baru saja turun dari sedan warna metalik itu menghampirimu, mencium pipimu, merangkulmu untuk selanjutnya menuntunmu menuju mobil mewahnya dan akhirnya hanya sebuah kepergianmu yang mampu aku nikmati.

24 April ‘09
Aku masih setia dengan kegilaanku untuk selalu mengikuti ajakan kakiku, kembali ke taman senja dengan harapan yang masih sama, sekedar melihatmu meski hanya dari jauh. Kali ini naluriku sepertinya salah, karena sosokmu tak kudapati di bangku itu, kemana kamu wahai sang wanita, apakah aku terlalu kepagian ataukah justru terlambat, kucoba sedikit menenangkan hatiku untuk sejenak berdiam diri bersabar menanti kedatanganmu walau terasa sangat berat.

Ternyata aku tidak salah dengan kepatuhanku kali ini, kamu datang lagi, berbalut busana putih bergaya tahun 70-an, polesan make up yang tidak terlalu tebal, dengan rambut terurai sepinggang sungguh membuatmu semakin menawan dimataku, langkahmu sangat tenang dengan tujuan yang sama bangku coklat di sudut taman itu.
Tapi…, siapa lagi sang pria yang menghampirimu setalah kurang dari lima menit kau menikmati bangku kesayanganmu itu, dia bukan lelaki yang kemarin bukan pula lelaki yang pernah membuatmu meneteskan airmata karena amarahnya. Pria itu jauh lebih muda darimu, kenapa dengan mudahnya dia menciummu, memelukmu dengan sangat mesra, memegang erat tanganmu seolah-olah tak ingin terpisahkan dengan sesekali mencubit gemas dagu dan pipimu.

Apa yang terjadi denganku, kenapa hatiku panas, cemburukah aku??, tapi bagaimana mungkin, aku tidak kenal sangwanita, haruskah kulabrak lelaki itu, ataukah aku mengaku kalah saja, dan memaksa kakiku untuk pulang dan melupakan semuanya ??. Akhirnya pilihan kedua yang aku kabulkan.

25 April ‘09
Kali ini sengaja tidak kuturuti ajakan kakiku untuk pergi ke taman, sejak semalam kebulatkan hatiku untuk tidak lagi memata-matainya, aku sudah capek, hatiku terlanjur sakit dengan segala tingkahnya, biarlah rasa ini aku simpan sendiri, cukuplah pesonanya saja yang mampu kujadikan bunga tidurku untuk sekedar menjadi pengobat rasa kagumku atas sosok misteriusnya.

26 April ‘09
Aku masih puasa jalan-jalan ke taman, hatiku masih terus kupaksa untuk tidak terpengaruh sang kaki yang setiap saat merayu hatiku untuk kembali menikmati pesona wanita taman itu. Kucoba alihkan pikiranku, untuk sekedar melupakan sosok anggunnya, menghindar dari pesona indahnya, tapi semakin lama aku bersembunyi dari segala rasa ini, semakin aku penasaran akan keberadaannya. Rasa apakah ini, kenapa terasa begitu aneh??. Tidak.., aku harus kuat, dia bukan siapa-siapa dan tak layak merebut perhatianku.

27 April ‘09
Kenapa rayuan sang kaki terasa semakin hebat dan kuat, dan kali ini kurasakan seluruh tubuh kecuali hati tumpulku seolah-olah turut serta menyeretku ke taman. Aku tidak mampu lagi berdiam diri, dengan setengah hati akhirnya kuturuti kehendak badanku, untuk sekedar menjadi penikmat sosok sang wanita taman.

Tepat seperti dugaanku, akan ada laki-laki pecinta ragamu yang akan selalu hadir jika kau sudah duduk ditaman ini, dia bukan laki-laki pertama, kedua, ketiga, ataupun yang kesekian kalinya, ada sosok lain lagi yang menghampirimu dan siap menikmati setiap jengkal indah tubuhmu. Kenapa kamu selalu diam dan seolah-olah membiarkan setiap laki-laki memetik paksa kuncup-kuncup indahmu, kenapa tidak kau turuti kata hatimu, yang kuyakin tidak menghendaki tubuhmu terjamah tangan-tangan tak berhati.

Duhai sang wanita taman katakan satu hal saja padaku, atau berilah aku sekedar isyarat matamu maka dengan secepat kilat aku akan menjadi dewa penolongmu. Menjauhkanmu dari setiap pecinta wanita, menyelimuti tubuhmu sehingga terhindar dari segala rasa sakit dunia, dan menjadikanmu perhiasan hatiku untuk selama-lamanya.

28 April ‘09
Tidak ada sang kaki yang merayu, tidak pula keberadaan badanku turut serta memaksaku ke taman, tapi ini murni kehendakku, kata hatiku, aku ingin segera ke taman, dan melindungi sang wanita dengan segala dayaku, dari siapapun dan apapun.

Kulihat kamu duduk terdiam dengan angunnya disana, seperti kemarin dan kemarinya lagi kucoba berdiam diri untuk sekedar mengamati kamu dengan segala kebiasaanmu. Kamu adalah cahaya yang mampu memberi terang disetiap kegelapan, kamu adalah lautan kasih yang sampai kapanpun tak akan kering diselami, kamu adalah cermin yang membuat manusia mengerti akan arti hidup, mungkin itu sebagian dari kata-kata yang akan disampaikan oleh setiap pecinta dan pengagummu, tak salah memang jika akupun turut mengamininya, karena melihat keindahanmu dengan segala rahasiamu adalah suatu kebahagiaan terhebat dalam hidupku.

Dia datang lagi, laki-laki pertama yang mampu membuatmu menangis tanpa air mata, sepertinya dia hendak menyeratmu lagi untuk segara beranjak dari bangku taman itu, tidak kali ini aku harus bertindak, aku yakin kamu membutuhkan sang penyelamat bagi jiwa rapuhmu.
“Lepaskan dia”. Teriakku dengan lantang.
“Wow.., ada tamu rupanya!, siapa kamu?, apa urusanmu dengan istriku??”.

Istri, dia istrinya, benarkah???, tapi kenapa dia membiarkan sang istrinya dihinggapi berbagai macam kumbang, kenapa dengan tanpa perasaan dia mampu menyakiti hati sang wanita, laki-laki seperti dia tak layak disebut suami bagi sang wanita.
“Suami macam apa kamu, yang tega menyakiti wanita lemah seperti dia”.
“Kenapa kamu yang protes, atau janagn-janagn kamu mencintai istriku??”.

Bagaimana mungkin seorang suami bisa dengan entengnya bertanya kepada laki-laki lain seperti itu, yang terdengar sebagai sebuah tawaran terhadap istrinya.
“Cinta??, aku tidak tahu arti cinta, yang aku tahu aku hanya ingin melihatnya selalu tersenyum bahagia, menghapus segala duka deritanya, memastikan dia tidak terluka dan membuatnya ceria menjalani hidupnya, jika itu yang kamu katakan sebagai sebuah cinta, maka mungkin benar jika aku memang jatuh cinta”.
“Hemm…, sebuah kata-kata yang terdengar sangat indah namun terasa sebagai hinaan bagiku, apa maksud semua kata-katamu, kamu ingin merebutnya dariku??”.
“Cinta tak perlu direbut, cinta tak perlu dipaksa, dia akan datang dengan sendirinya, dia akan menemukan pemiliknya meski dia telah pergi jauh tersesat”.

“Omong kosng semuanya itu, sejak lama dia telah kujadikan milikiku, tidak seorangpun bisa mengambil dariku, tidak juga kamu”.
“Aku tidak bermaksud mengambil atau mencuri apa-apa, aku hanya ingin mengatakan kepada wanitamu”.

Kucoba sedikit mendekat kepada sang wanita, kuingin memastikan dia benar-benar mendengar kata-kata terakhirku.
“Dengarlah wahai sangwanita, jika sebuah keteduhan akan rasa cinta yang kamu cari maka larilah ke arahku, aku akan merelakan segalanya untukmu”
“Dasar laki-laki sinting, dia milikku dan selamanya akan menjadi milikku”.


Akhirnya kamu turuti juga seretan laki-laki yang menyebut dirinya suamimu itu, kenapa kamu masih terdiam, tataplah aku, beri aku sedikit tanda bahwa kamu benar-benar membutuhkan bantuan, jangan takut wahai sangwanita, aku bukanlah seperti penikmat-penikmatmu yang lain. Berbaliklah, aku disini dengan tawaran nyata cinta yang kau cari, berhentilah, lepaskan tanganmu dari jeratan suamimu, larilah, larilah ke arahku.

Langkahmu mulai melambat, kamu sempatkan menoleh ke arahku, dan kemudian sedikit senyum kau lemparkaan kepadaku, kulihat tangan kirimu mulai meraba sesuatu di saku jaket bagian dalam, kau temukan sesutu yang kamu sembunyikan, dan akhirnya sebuah hunusan tajam kau tancapkan kepada lelakimu, tusukan demi tusukan kamu lakukan, kamu tertawa puas, aku melihatnya dengan sangat nyata, sengaja aku tidak berusaha untuk meleraimu, aku ingin kamu merasakan kepuasan itu, sebuah rasa yang aku yakin sudah lama kamu idam-idamkan.

Entah tangan Tuhan ikut serta ataukah tidak, namun kali ini pengunjung taman tak satupun tampak olehku, dengan sedikit sisa-sisa tenaga kamu lari menghampiriku, kamu sudah benar wanitaku, arahmu sudah tepat, telah kubuka lebar-lebar kedua tanganku menyambut dirimu dengan segala masa lalumu. Kuraih pisau tajam berlumuran darah dari tanganmu, kupeluk hangat tubuh lemahmu, kukenakan jaket mantel panjangku ketubuhmu, sebuah alamat kuselipkan ketanganmu, kupaksa kamu untuk segera menjauh dari laki-laki yang telah kau renggut nyawanya. Biarlah aku yang menangung semua hukuman atas tindakanmu, aku rela demi senyummu, demi rasa bebasmu.

*****
21 April '14
(Tanggal dan Bulan yang sama ketika untuk pertama kalinya aku melihatmu di taman senja)

5 Tahun kunikmati hawa sejuk penjara, tanpa kunjunganmu, tanpa kutahu nasibmu, tapi aku sangat yakin kamu bahagia, kamu merasa bebas, dan satu hal lagi yang sangat kuyakini, kamu akan setia menungguku.

Tepat pukul 07:00 pintu penjara terbuka lebar untukku, sambil memejamkan mata kulangkahkan kaki kiriku keluar gerbang, dan setelah kurasa kedua kakiku berada diluar rumah singgahku selama ini, perlahan kubuka kedua mataku, kulihat sosok yang selama ini sangat aku rindukan berdiri dengan anggunnya disana, apakah ini nyata??, ataukah hanya sebuah anganku??, aku masih terdiam mematung, sampai sebuah kecupan mesra mendarat dipipiku.
“Ini bukan mimpi, ini aku yang datang hanya untukmu, maafkan aku yang tak pernah menjengukmu, aku yakin kamu maklum akan alasanku, tapi perlu kamu tahu, pikiranku tak pernah jauh dari bayangmu”.
“Selamat datang cinta ditaman hatiku, duduk dan berdiam dirilah walau berlama-lama”.

Kamu tersenyum tanpa beban kearahku, kamu melangkah ringan disisiku, dan mulai sekarang kita akan memulai drama hidup kita bersama-sama selamanya.


CINTA

Aku tidak tahu arti cinta
Yang aku tahu
Aku hanya ingin melihatnya selalu tersenyum bahagia
Menghapus segala duka deritanya
Memastikan dia tidak terluka
Membuatnya ceria menjalani hidupnya
Jika itu yang dikatakan sebagai sebuah cinta
Maka mungkin benar jika aku memang CINTA padanya.

Special thanks to My Sister, U r great, tidak banyak yang mampu aku berikan kepadamu, tapi melalui tulisan yang tak bermakna ini, harapku kamu mampu menjadi lebih tegar, setegar kupu-kupu besi.


Read More......
Template by - Abdul Munir